Thursday, October 16, 2008

"suka duka sbg fotografer freelance" part5

"suka duka sbg fotografer freelance"
part5

Hari itu, yang pesan foto dompet cukup banyak, ada 5 orang lebih. Dan seperti biasa, aku telah mengantungi dan memasukan foto2 pesanan tsb kedalam saku celana, sebelum mulai bekerja.
Begitu si satpam-rese ketemu dengan ku, lebnih tepatnya, ‘menemukan’ ku!^_^, dia langsung menagih foto pesanannya, tepat disaat aku masih berasa di stand foto, TEPAT ketika ada adiknya pak jhon, pak Anton, dan TEPAT ketika ada bang hol. Ughh, bagus!! Scene yang mendukung!
Selama ini, mereka tidak tahu proyek kecil ini, kecuali para fotografer lainnya, tatan, surya, mr. Jacob.. aku segera diajak oleh si satpam ke stand baso malang, dekat stand foto, dan waktu itu mulai merasakan aura kegelapan, hawa tidak menyenangkan disekeliling ku. Penat dan tertekan kurasa.. ada apa gerangan ya??
lalu..ketika si satpam mengamati foto pesanannya setelah sebelumnya meminta dengan tidak sabar, dan ketika ia mulai memberikan uang nya.. saat itulah aura kegelapan telah berubah total menjadi gelap-pekat, menyelimuti ruangan sekitar ku.. dan hawa tak menyenangkan menjadi kengerian, mimpi buruk..

Sepasang mata TENGAH mengawasi ku, masih mengawasi ku.. sejak saat si satpam ‘menemukan’ ku.. terus dan terus mengawasi.. bak seekor elang yang tengah mengintai calon buruannya.
Dengan perasaan tidak enak, aku berpura2 bersikap biasa, tapi tetap saja aura-nya terasa.. dan tetap mencekat ku.. belum tenang hati ini, secara tiba2 pak Anton mendekati ku dan bertanya, “apaan tadi, mas?” dengan nada-tengah-menginterogasi-seseorang. Waduh!! “oh.. [bingung hendak jawab apa..] itu tadi, foto”, “foto apa?” sambungnya, “foto pesenan..”, “foto pesenan?!” mencoba meyakinkan, dan aku hanya bisa menganggukkan kepala, pelan. Dan pak Anton pun terus melancarkan ‘pertanyaan2-interogasi nya’ tanpa henti. Waduhh!! habis deh gw.. apalagi pas pertanyaan: “udah sering?”, “yah..[gw nyoba cari2 alesan], gak juga sih, cuma pas ada yg minta aja..” waduh! Celaka!! sepertinya aku salah pilih kata2..!!
walaupun ku coba bersikap sewajar dan senormal mungkin, tapi, kegelisahan hati ini tetap tak kunjung pergi jua.. ohh.. nestapa nya aku..
kemudian, disaat aku bingung [udah deh, abis gw, udah ketahuan total], dan bersiap2 dengan pertanyaan ‘interogasi’ selanjutnya, eh, rupanya pak Anton tidak mengajukan pertanyaan lagi, lantas dengan segera kupandang bang hol, dan dia pun tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai operator editing foto, seolah2 tidak mendengar ‘interogasi’ barusan.
Tak lama, si ‘biang’ Desti, datang menghampiri diri ku, sambil senyum2 manja.. waduh!! Tambah lagi deh, hal yang tambah buat celaka-_- dan doi pun segera menanyakan foto pesanannya begitu senyum manja di wajahnya menghilang dengan pelan. “tar aja..” bisikku, “tunggu aja disana..” lanjutku, setelah sebelumnya member isyarat-yang-ternyata-tidak-dimengerti-olehnya! [jangan bahas soal foto]. “oh ya udah, aq tunggu disana ya..” balasnya sambil kembali tersenyum manja dan pergi meninggalkan ku.

Untunglah tak lama setelah itu, ada seorang pegawai yang memanggil, “hoii, fotooo..!!”, berteriak seperti biasanya dari sudut pintu keluar. Wah, selamet deh.. untuk sementara.. dan ku telan air liur ku seiring dengan langkah kaki ku menghampiri sang pegawai.

Rupanya para pegawai mengetahui perubahan yang terjadi pada diri ku saat itu. “kenapa, mas?” begitu tanya mereka.. ku pandang mereka satu-persatu dan menghela nafas.. “gak ada apa2..” tanpa mencoba dan berusaha untuk tersenyum. Dan ku seret langkah ku memasuki boks DS, dan mencari sang klien..
Begitu selesai, aku langsung berjalan menuju stand foto, dan menghiraukan teman2 pegawai yang masih mempunyai beberapa pertanyaan di wajah mereka.

Selesai men-transfer, kembali aku berjalan menuju pintu keluar, sambil bersiaga. Disana, barulah ku ceritakan kegalauan yang ada di hati ku. Tanpa di nya-nya, Desti menghampiriku dan meminta maaf. Aku hanya bisa memandang ke lantai di bawah ku tanpa mengucapkan terima kasih, kepadanya. Barulah setelah ia berulang kali mengucapkan kata maaf, saat itu juga ku pandangi wajahnya. Terlihat kecemasan di raut wajahnya. “makasih..” ucapku pelan. Astaga.. aku terharu.. betapa perhatiannya mereka terhadapku. Tak hanya Desti, Ita, si teteh kerudung, dan pegawai lainnya, semua mengkhawatirkan kondisi ku, terutama karena aku yang tengah murung saat itu, yang mungkin bagi mereka yang mengenalku sebagai seorang bujangan ‘tengil’ yang riang, hyper, jahil dan suka bercanda, tiba2 berubah. Disaat aku menghargai perhatian mereka, ku rasakan sebuah sentuhan ditanganku, lantas ku pandangi Desti, yang mencoba menghiburku dan menenagkan ku lewat sentuhan tangan-‘jangan khawatir’ dari nya. Ahh.. akankah aku jatuh cinta lagi seperti diriku yang biasanya?!

Belum selesai Desti menghiburku, aku segera beranjak masuk ke dalam DS. Didalam, ku dapati Iman dan Heri, dua orang teman (pria) terbaik ku saat ini, tengah berada di atas benteng seluncur. Ku datangi mereka, dan kembali ku tumpahkan perasaanku.. mereka ikut prihatin. Dan mereka pun menghabiskan detik2 dingin dengan mendengarkan curahan hati ku. Terima kasih, kawan. Terima kasih atas waktu yang kalian luangkan saat itu, dan terima kasih telah menjadi pendengar yang baik..
Setelah suasana hatiku sedikit tenang, aku keluar dan kembali ke stand foto. Disana, kudapati bang hol dan Irama, sementara pak Anton sudah tidak terlihat.

Begitu aku duduk disamping bang hol, dia pun segera membuka permbicaraan, “lu tadi ngapain sih? Pak Anton tanya2 ke aku ‘itu si dimas ngapain?’ bla..blaa..?”, “aku jadi gak enak ditanya begitu, jadi aku jawab aja ‘gak tau’ ke pak Anton”, bla..blaa.. lantas ia pun menasihatiku dan memberitahuku, “asal lu tau ya, kus[begitulah ia memanggilku], pak Anton itu orangnya curigaan, ada apa2 pasti langsung dia tanya. Apalagi soal tadi..” bla..blaa.. singkat kata, ia menasihatiku dan memberitahuku, supaya ‘jaga diri’. Aku hanya bisa mendengarkan apa yang dikatakannya dengan penuh perhatian. Karena aku AKAN sangat bersalah jika sampai bang hol terlibat lebih jauh. Bisa dibilang, aku memang menggunakan ‘main di belakang’ mereka, persis seperti yang pak Anton sempat ucapkan langsung ke bang hol.

Entah apa yang harus aku katakan. Aku menyesal telah menyeret bang hol, padahal ia telah berbaik hati mengajakku menjadi fotografer freelance di BSM, sebuah mal yang elit dan terbesar di Bandung, yang mana belum tentu setiap orang bias mendapat pekerjaan disini.
Walaupun ia berkata, kalau dirinya tidak terlalu mempermasalahkan, tetap saja aku merasa bersalah.
Ku rasa, aku harus bersiap2 untuk kemungkinan paling buruk, diberhentikan.

Sejak saat itu, aku bukannya menghentikan proyek kecil tersebut, melainkan mencari alternatif lain, seperti, “tolong jangan bahas soal foto didepan stand foto, atw kapan aja. Tolong.. gw minta tolong, kalo soal foto, pas DS dah tutup aja, tolong kawan..” begitu lah pinta ku kepada teman2 baru ku. Dan mereka pun menyanggupinya. Syukurlah.. untuk beberapa detik selanjutnya, aku mulai merasakan ketenangan dihatiku..
Oh iya, kenapa aku sampai takut terhadap manusia, bukan terhadap Tuhan?! Astaga.. betapa bodohnya aku!!

Kemudian aku kembali menikmati hari2 ku sebagai fotografer freelance seperti biasa pada hari2 berikutnya. Tanpa terasa, hamper memasuki hari terima uang honor minggu ke-4, alias satu bulan.

Part4,
selesai.

No comments: