hari kedua,
hampir tidak ada kegiatan atau acara yang berarti, bahkan sepanjang hari hanya diisi oleh main game, baca-baca, atau nyantai di ayunan yang berbentuk tempat duduk dari bambu yang terletak dipojok depan rumah, ketika sore karna bisa melihat para pembantu yang entah kenapa selalu bolak-balik didepan ku..
mungkin karna sudah lama mereka tidak melihat mahluk berjenis kelamin cowok remaja, karna dikompleks Townsite, hampir tidak ditemukan remaja cowok atau, bahkan jumlah remaja ceweknya pun hampir-hampir tidak ada!hampir penduduknya diisi oleh anak-anak..
ughh.. begini caranya, aku tidak bisa merayu cewek nih..
hari ketiga,
sama seperti hari kedua, plus, aku menjadikan akbar sebagai model untuk digicam, baik ketika ia main PS2 hanya mengenakan celana pendek, atau ketika ia tidur.
malam harinya, lagi, kami makan malam dengan lauk bebek goreng^^
hari keempat,
pagi hari, aku memutuskan untuk mengantar kedua keponakan ku, dengan memberanikan diri ku mandi pagi dan melawan udara pagi yang dingin.
pulang mengantar akbar, aku menyempatkan diri untuk memfoto beberapa lingkungan sekitar tempat akbar sekolah. dilanjutkan dengan taman Bukit Asam.saking keasyikan dengan foto-memfoto, mbak ku sampai-sampai menelpon ku beberapa kali, meminta ku untuk segera pulang.
yah sudahlah, toh, aku sudah cukup mendapat foto yang lumayan^^
ketika siang, aku diminta untuk menemani mbak ku pergi ke kebunnya, bersama dengan seorang ahli ilmu kebatinan dan sanak saudara.
mengapa mbak ku sampai membawa seorang ahli ilmu kebatinan? adalah karna semua orang yang telah melihat dan berniat membeli kebun tersebut, selalu berakhir dengan pembatalan, padahal ketika datang melihat, mereka sangat tertarik.
dan, siang itu, berangkatlah kami setelah sebelumnya semuanya berkumpul dirumah sanak saudara ku tersebut.
kebun yang hendak dijual oleh mbak ku karna kebutuhan ekonomi, terletak di kota Muara Enim, sekitar 30menit perjalanan dari Tanjung Enim. dan ternyata letak kebunnya tersebut masuk kedalam daerah 'trans', atau desa yang baru dibuka untuk pemukiman. jaraknya pun kurang-lebih sama, 30menit-an. apalagi karna jalanannya masih berupa kerikil.
satu hal yang mengusik ku adalah, Lisa, anak gadis dari sanak saudara ku yang diajak serta oleh mbak ku, yang sedari berangkat SELALU dan SELALU mengutak-atik rambutnya. bahkan itu dilakukannya hampir setiap menit!
astaga! ini sangat mengganggu pemandangan, apalagi aku duduk dibangku paling belakang, persisnya tepat dibelakangnya-_-berapa kali ku coba untuk melihat pemandangan diluar lewat jendela mobil jenis CARRY tersebut, tetap saja kegiatan itu mengusik mata ku secara tak langsung..
"oh, ayolah, setidaknya jangan lakukan itu didepan kusecara terus-terusan seperti itu.. jika memang ingin menarik perhatian ku, tolong, lakukan dengan cara lain.." pinta ku dalam hati.
untunglah kebosanan tersebut selesai begitu kami telah sampai disebuah rumah mungil yang hampir penuh dengan debu dan ada beberapa orang yang tengah duduk bersantai dihalaman depan.
setelah mbak ku berbincang kepada salahsatu dari mereka, yang ternyata rumah yang menjaga kebun mbak ku, lantas kami memulai perjalanan kami menelusuri lebatnya pohon dan rerumputan di belakang rumah tadi.sepanjang perjalanan mbak ku berbincang kepada kak Ardian, sang ahli ilmu kebatinan, sementara baik Rudi, kakak Lisa yang mengantar kami dan yang membawa mobil, asyik melihat-lihat pemandangan sekitar, sementara Lisa mengekor dibelakang mbak ku dan aku mengekor dibelakang Rudi, dan meniru apa yang dilakukannya, melihat-lihat sekitar.begitu banyak aneka pohon maupun tumbuhan yang tumbuh lebat disana-sini.
sebelum aku mengeluh, jauh, mbak ku berseru, "maaf ya, kebun nya agak jauh.." sambil tak lupa memberi senyum dalam nada suara ramah khas miliknya^^
dan akhirnya, setelah berjalan naik-turun, kami sampai disebuah tanah gersang yang terselimuti oleh pasir putih. dan aku berasumsi, pastilah dulunya disini pantai.. karna bukannya pasir putih hanya bisa ditemukan di daerah berpantai saja, tapi ini, lokasinya..maka, digicam ku beraksi. jepret! jepret!!
tengah asyik dengan kegiatan ini, aku diganggu oleh suara mbak ku dan Rudi, yang menemukan tanaman "Kantung Semar" dan memetiknya. lagi, mbak ku bercerita tentang khasiat dan manfaat "Kantung Semar" sebagai suatu obat, entah apa.. karna aku masih terfokus pada kegiatan ku sebelumnya.
beberapa langkah kemudian, ternyata didepan mata ku, disitulah kebun mbak ku terletak.
ada sebuah pondok kayu yang di gembok oleh sang pengurus kebun, padahal bukan ia yang memiliki kebun tersebut.
baru beberapa saat berada disana, aku merasakan keanehan dan keganjilan. salahsatunya, angin 'mistis' yang hanya aku dan sudah pasti kak Ardian juga menyadarinya.aku mencoba melihat ke sekeliling, keatas-atas pohon, atau dimana biasanya mahluk halus tinggal. didanau kecil itu kah?? di pohon itu kah?? sayang, aku belum terlalu terbiasa untuk mendeteksi hal seperti ini dengan pasti dikarnakan aku memang belum begitu menguasai ilmu ghaib..
kemudian, baru ku sadari kalau kak Ardian telah 'menelusuri' nuansa ghaib dan mistis yang ada di kebun seluas tiga hektar tersebut, dengan diantar dan ditemani oleh mbak ku, Rudi dan Lisa yang ikut mengekor. sementara aku tengah belajar mengasah 'terawangan' ku, lagi. kemudian pergi menyusul mereka.
setelah mengecek keempat penjuru kebun tersebut, kak Ardian menanyakan dimana posisi mata angin. dan mbak ku maupun Rudi sibuk membuat analisis, tapi, ungtunglah mbak ku mengingat batas-batas dari kebun tersebut yang disebutkan didalam surat kepemilikan. sehingga tak lama setelah mendapatkan hasil posisi mata angin, kak Ardian terlihat tengah melakukan ritual dan membaca beberapa penggal ayat suci.
setelah selesai, kemudian kami semua kembali ke dekat pondok, dimana pohon karet yang hanya ditanam hanya sebatas seluas satu hektar itu berada. disana kak Ardian menjelaskan beberapa hal kepada mbak ku maupun kami yang ikut mendengarkan.pada saat itu, aku kembali nuansa mistis.. sekarang, tidak hanya sekedar angin 'mistis' yang berhembus, tetapi juga sebuah pohon yang terletak didekat sungai dibawah sana yang tampak bergoyang tak jelas, dimana bahkan angin saja sedang tak bertiup.aku yang ingin buang hajat, pergi meninggalkan rombongan dan datang menghampiri danau kecil yang terletak tak jauh beberapa langkah didepan pondok. airnya sedikit aneh warnanya, sebelum ku sadari bahwa disitu juga merupakan tempat 'tinggal' mahluk halus lainnya. aku yang sejak berangkat dari rumah berdebu tadi sudah berdoa, jadi tidak terlalu takut, toh, aku masih terus berdoa hingga sekarang.
begitu kembali, tak lama kemudian, mbak ku mengajak kami menikmati makan siang nasi padang bungkus disana, yang telah dibeli di pasar Tanjung Enim sebelumnya.
selesai makan, dan ketika semua hal yang perlu dilakukan telah selesai, kami berjalan pulang.yah, untunglah tidak ada gangguan yang berarti, karna para mahluk halus tersebut pasti tidak mau berurusan dengan kak Ardian yang berilmu tinggi dan hebat! itu^^ mungkin itu juga sebabnya hasil jepretan ku disana tidak ada yang cacat^^
kali ini, aku memotret tanah gersang yang aneh. pucuk daun, dan kemudian, tanaman "Kutu Babi" yang buahnya yang berwarna hitam dan berbulu itu tengah bercongkol dengan berani, seolah menantang mulut ku. rupanya mbak ku juga seorang penggemar buah "Kutu Babi" ketika kecil dulu, sama seperti ku. dan anehnya, baik Rudi maupun Lisa tidak tahu sama sekali mengenai buah tersebut. bahkan termasuk kak Aridan. eh??
buah "Kutu Babi" adalah buah kecil berdiameter kurang-lebih satu centi, berbulu. mungkin itulah mengapa kami, penduduk Pagaralam, menamakannya Kutu Babi, karna selain ukurannya yang sama dengan kutu yang suka berada ditubuh babi liar, begitu kata orangtua ku. ketika telah masak berwarna hitam, dan rasanya manis dan ada seratnya.
ketika pulang, mbak ku masih berbincang-bincang dengan kak Ardian, termasuk Rudi yang ikut sesekali berkomentar. sementara Lisa kembali melakukan hal yang membuat ku tidak betah, dan aku lagi-lagi berusaha untuk mendengarkan musik yang berdendang ditelinga ku dan mencoba menikmati pemdangan diluar.
setelah sampai dirumah Rudi, aku menyempatkan untuk ibadah Ashar, dan santai sejenak menikmati air dingin khas yang dituang dari sebuah kendi, khas paman Sauri, orangtua Rudi, Lisa, seperti biasa setiap kali kami datang berkunjung^^
air yang berada didalam kendi tersebut mampu memberikan rasa segar dan sejuk yang tak bisa didapatkan dari air teko biasa, bahkan cita rasa nya berbeda dengan air es. rahasianya adalah dengan menanam atau membenamkan kendi didalam tanah beberapa hari sebelum digunakan. setelah itu, voila!! berapa kali pun kau masukkan air kedalam kendi, hasilnya air segar dan sejuk yang khas! coba lah^^
setelah dirasa selesai, barulah aku dan mbak ku berpamitan pulang. dan ketika itulah mbak ku menawari ku untuk mengantar ku datang ke rumah Fitri, gadis yang dikenalkan oleh mbak ku liburan terakhir kemarin.
aku langsung saja setuju^^
lantas kami pun pergi menuju rumah Fitri dengan motor yang kami bawa. mbak ku sempat salah mengira kediaman Fitri, sebelum kemudian bertanya kepada seseorang.
aku yang berharap-harap cemas, tak jelas, langsung... entah lega atau apa, susah dijelaskan, begitu menemukan rumah Fitri yang sangat sederhana seperti yang telah diceritakan oleh mbak ku. tak hanya sifatnya, bahkan seluruh keluarganya pun bersikap rendah hati dan sangat sederhana. dan aku pun tersenyum bangga karenanya.
sayang, kami hanya mendapati ibunya saja yang berada dirumah. karna ternyata Fitri tengah keluar, pergi membantu dirumah tetangga yang akan nikah.
astaga! bahkan sampai aku datang berkunjung, ia masih tetap seorang yang sibuk senantiasa biasa^^
maka, sebagai satu-satunya obat penghibur hati, aku mengabadikan rumah tersebut. sementara mbak ku membeli beberapa jajanan kerupuk yang dijual oleh ibu Fitri.
pulang, mbak ku mencoba menghibur ku, dengan mengatakan, "..Fitri orangnya emang sibuk.." seperti yang telah ia beritahukan kepada ku sebelum-sebelumnya.
dan ketika itu lah, aku mencoba mengganti topik, mengenai keanehan dan keganjilan yang terjadi selama kunjungan di kebun. dan sepanjang jalan, kami tak hentinya membicarakan hal tersebut. bahkan ketika telah sampai di Rasamala 4, mbak ku menceritakan ulang hal tersebut kepada ayah ku, yang juga menguasai ilmu kebatinan (istilah jawa nya, "Kejawen").
malam hari, aku kembali menemukan masalah pada komputer mbak ku.. astaga! sepertinya komputer ini memang minta diganti..
bersambung,
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment